• Senin, 25 September 2023

Nelayan di Sri Lanka Menjerit dalam Situasi Ekonomi yang Terus Memburuk

- Selasa, 19 April 2022 | 14:24 WIB
Ilustrasi nelayan di Sri Lanka.  (Canva/Pixabay mydaydream)
Ilustrasi nelayan di Sri Lanka. (Canva/Pixabay mydaydream)

PenaBicara.com - Sri Lanka, negara yang dijuluki sebagai Permata Samudra Hindia tersebut harus berhadapan dengan polemik ekonomi yang tidak berujung.

Disebutkan, negara yang menjadikan Kolombo sebagai ibukotanya tersebut sedang berjuang mati-matian melawan krisis ekonomi terburuknya sejak kemerdakaan di tahun 1948.

Buruknya sistem perekonomian yang terjadi di Sri Lanka terjadi karena buruknya sistem keuangan pemerintah saat pandemi COVID-19, ditambah dengan kebijakan pemotongan pajak yang dinilai waktunya tidak tepat.

Baca Juga: Kisah 5 Nelayan Indonesia Korban Kapal Karam di Malaysia: Berpegangan Pada Galon Air Untuk Mengambang di Laut

Di Kolombo, masyarakat berubah menjadi pengunjuk rasa yang menuntut penggulingan Presiden Gotabaya Rajapaksa. Masyarakat merasa tidak puas dengan pemerintahan presiden saat ini karena mereka harus berhadapan dengan polemik harga kebutuhan yang meroket, pemadaman listrik, kekurangan obat-obatan, dan juga kesulitan bahan bakar.

Salah satu kelompok masyrakat yang sangat terdampak akibat situasi ekonomi yang terus memburuk adalah para kelompok nelayan di Negombo.

Di Negombo, para nelayan harus berhadapan dengan kenyataan dimana penghasilan mereka tidak sebanding dengan pengeluaran mereka sehari-hari.

Baca Juga: KAI Hadirkan Diskon Tiket dan Tarif Promo untuk Naik KA Lebaran

Saat ini, para nelayan harus menerima keadaan di mana mereka harus antre berjam-jam untuk mendapatkan solar yang bahan bakarnya naik, es untuk mengawetkan naik, juga umpan dan jaring yang para nelayan butuhkan juga mengalami kenaikan harga.

Akibat dari polemik ekonomi yang tidak berujung, para Nelayan di Negombo juga ada yang harus megurangi jatah makan dan tidak bisa membayar pinjaman mereka karena tidak lagi memiliki uang.

Para nelayan di Negombo juga sudah mengalami kelumpuhan sebagian dan diprediksi akan terus berlanjut hingga 3 sampai 6 bulan ke depan. Banyak dari mereka mengkhawatirkan kondisi ini akan terus berlanjut dan takut untuk tidak bisa membayar biaya pendidikan anak-anak mereka.

Namun kondisi ini tidak bisa membuat para nelayan melakukan apapun selain berusaha untuk terus bertahan, dan mencari uang tambahan dengan melibatkan para istrinya untuk bekerja mengeringkan ikan.***

Editor: Hilda Arief

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Terkini

385 WNI dari Sudan Tiba di Tanah Air

Jumat, 28 April 2023 | 11:43 WIB

Menlu: 897 WNI di Sudan Sudah Dievakuasi

Kamis, 27 April 2023 | 14:18 WIB

Satgas TNI Berhasil Evakuasi 110 WNI Di Sudan

Kamis, 27 April 2023 | 13:50 WIB

Pemerintah Evakuasi 538 WNI dari Sudan

Selasa, 25 April 2023 | 07:54 WIB

Bantuan Kemanusiaan Dari Indonesia Dilepas ke Turki

Minggu, 12 Februari 2023 | 11:32 WIB
X