• Kamis, 20 Januari 2022

Kisah Misteri Ritual Pesugihan Gunung Kawi Yang Berakhir Tragis

- Sabtu, 27 November 2021 | 17:52 WIB
Lokasi Gunung Kawi.  (Tangkapan layar:Youtube)
Lokasi Gunung Kawi. (Tangkapan layar:Youtube)
PenaBicara.com - Gunung Kawi adalah sebuah gunung yang terletak di desa Wono Sari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Gunung Kawi juga merupakan salah satu tempat favorit bagi orang-orang yang ingin meraup kekayaan dengan dengan jalan pintas dengan melakukan ritual tertentu.
 
Mitos yang beredar, jika melakukan pesugihan di Gunung tersebut maka pemuja akan mendapatkan keuntungan berupa harta yang berlimpah. Tetapi banyak orang yang tidak menyadari atau mungkin mengabaikan bahwa dibalik bergelimang harta itu terdapat kutukan yang mengerikan, yang mengikuti si pemija sampai ketika saatnya tiba. 
 
Dikutip dari laman YouTube Fakta Sejarah. Cerita mistis tersebut diungkap oleh Nur (bukan nama sebenarnya). Nur merupakan bungsu dari tiga bersaudara. Cerita itu berawal ketika ia duduk di bangku SMP kelas 1.
 
Kala itu, sang ibu berdagang baju di pasar tetapi sudah beberapa bulan ini usahanya sepi. Sampai pada suatu ketika sang ayah diajak seseorang untuk pergi ke Jawa. Nur dan orang tuanya merupakan warga Mamuju, Sulawesi Barat
 
Singkat cerita dari Nur, bapak pergi ke Surabaya bersama Pak Joko menggunakan kapal laut karena masih di Sulawesi Barat dan, dua minggu kemudian Bapak sudah kembali. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari kepulangan Bapak sore itu. 
 
Sebuah koper, tetapi Bapak berpesan tidak boleh dibuka kecuali oleh Bapak dan Ibu. Dasar aku anaknya bandel dan selalu ingin tahu. Apalagi sesuatu yang dilarang semakin menambah rasa penasaranku. Saat itu yang ada dipikiranku, koper berisi makanan. Maka ketika Bapak tengah tidur sore itu, cover itupun kubuka ternyata isi koper itu hanyalah dupa yang dibungkus kain Merah dengan tulisan Cina yang aku tidak tahu artinya.
 
Ketika itu aku tidak tahu benda apa itu, pikirku adalah kembang api. Tanpa merasa bersalah aku ambil satu batang, kubawa ke dapur dan kunyalakan dengan korek. Aku heran kok mah berkali-kali tidak menyala, hanya asap putih yang keluar dan menyebabkan aroma aneh yang asing bagiku. 
 
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan bapak keluar dari kamar. Pasti gara-gara aroma wangi itu yang membuat bapak terbangun
 
"Siapa ini yang bongkar koper bapak! 
 
Kakakku yang saat itu lewat di depan Bapak menjadi sasaran Rita, kamu yang membongkar cover Bapak?
 
"Bukan Aku,pasti Si nur itu. Siapa lagi? "
 
"Anak setan! "bapak terdengar sangat marah..
 
"Kamu itu Nur Nur. Masih saja tidak berubah!
 
"Bapak kalau sudah marah seperti itu.
Bisa kenal kena pukul beneran pantatku dengan kayu," gumam Nur. 
 
Melihat gelagat yang kurang menguntungkan, aku kabur ke rumah tante yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Malam itu aku tidak berani pulang dan tidur di rumah Tante. 
 
Dua hari kemudian kulihat ada satu ikat dupa digantung oleh bapak di atas pintu rumah. Aku heran dan seperti biasanya aku selalu ingin tahu dan aku bertanya ke bapak maksud dupa digantung di atas pintu. Tetapi lagi-lagi bapak tidak mau menjawab sudah "diam saja, anak kecil tahu apa".
 
Kemudian Bapak meluruskan untuk pindah ke kota lain dan memulai usaha baru di sana. Sepeda motor satu-satunya beserta semua emas perhiasan Ibu dijual sebagai modal untuk membuka usaha baru. Saat itu hanya Bapak dan Ibu yang berangkat duluan, karena aku sebentar lagi mau kenaikan kelas dan kakakku akan masuk kuliah di Makassar.
 
Di tengah perjalanan ada kejadian tragis yang hampir merenggut nyawa kedua orang tuaku. Bus yang ditumpangi mereka kecelakaan masuk jurang. Alhamdulillah orang orang tuaku selamat dari kecelakaan itu, tetapi terpaksa niat mereka pindah ke kota yang baru tertunda sampai bapak dan ibu sembuh.
 
Sekitar dua atau tiga bulan kemudian, akhirnya kami pun pindah ke suatu daerah di Mamuju Utara yang berjarak sekitar 1 hari perjalanan ke rumah. Aku ikut pindah sekolah mengikuti Bapak dan Ibu sementara Kak Rita (bukan nama sebenarnya) sudah mulai kuliah di Makassar. 
 
Di tempat yang baru waktu itu masih merupakan daerah bukaan transmigrasi baru, bapak dan ibu membuka toko sembako dan kelontong, pembelinya pun lumayan ramai. Besoknya bapak atau ibu selalu membakar 1 batang dupa di pojok dekat pintu toko, 
 
Pada suatu malam aku bermimpi, saat itu aku ingat malam bulan purnama. Anehnya aku bermimpi kejatuhan bulan. Bulan yang sangat besar dan berwarna merah jatuh di balik punggungku dan kutangkap dengan tanganku. Kemudian bulan kuberikan kepada bapak dan ibu. 
 
Saat itu aku terjaga, dan kuceritakan mimpi kepada ibu dan bapak. Wajah mereka tampak berseri. Kemudian ibu berkata padaku "kamu jangan ceritakan mimpimu itu siapapun. Insya Allah itu tanda kita mendapatkan rezeki, " kata Ibu. 
 
Aku tidak paham apa yang Ibu katakan padaku, tetapi faktanya sejak mimpi itu memang toko kami semakin ramai dan berkembang pesat. Sampai Akhirnya bapak mau beli lahan baru yang lebih luas dan dibangun gedung 2 lantai yang cukup megah. Masih ada lahan kosong di sebelah rumah yang juga milik bapak yang luasnya hampir 11 Gedung 2 lantai itu. Lantai satunya terbagi menjadi 6 petak yang masing-masing petak memiliki ukuran yang cukup megah. 
 
Semua petak digunakan sebagai tempat usaha, tetapi orang tuaku sudah tidak membuka toko sembako dan kelontong lagi
 Alasannya karena saat itu bapak membuka bengkel dan toko onderdil motor yang mendapati dua petak paling ujung
Kemudian dua petak untuk usaha rumah makan dan sisanya untuk penginapan titik Sementara itu lantai 2 digunakan sebagai tempat tinggal.
 
Oh ya semenjak kepergian bapak ke Surabaya waktu itu. Setiap enam bulan sekali bapak ditemani ibu selalu kembali ke Surabaya.
 
Saat itu aku yang masih SMP, tidak tahu apa tujuan orang tuaku selalu rutin pergi ke Surabaya tetapi bukan aku namanya kalau tidak cerewet dan selalu ingin tahu maksud kepergian ibu dan bapak ke Surabaya. Aku pun sering merengek ingin ikut diajak ingin, merasakan naik kapal laut dan pesawat
Tetapi ibu selalu punya alasan untuk menjawab. 
 
Setelah bertahun-tahun kemudian ketika aku sudah menikah, bisnis bapak dan Ibu tidak pernah sepi selalu ramai oleh pengunjung. Ketika usaha yang dijalankannya yaitu bengkel dan toko onderdil motor, rumah makan serta penginapan selalu memenuhi pundi-pundi harta mereka. Jika pengunjung dan pembeli berkurang atau pendapatan menurun hari itu, maka besoknya pasti bapak atau ibu membakar dupa, kadang-kadang juga aku yang disuruh akan membakar 1 batang dupa, yang diletakkan di sudut samping pintu rolling door toko
 
Pengunjung dan pembeli pun akan penuh dan ramai kembali. "Pokoknya kalau pengunjung berkurang bakar saja dupa itu, " itu yang selalu dikatakan bapak jika aku banyak bertanya dan selalu ingin tahu alasan membakar dupa. 
 
Terus terang, kadang-kadang aku merasa heran kenapa uang ibu dan bapak sangat banyak seakan tidak ada habisnya. Ibu selalu memberikan apapun yang kami mau. Kami benar-benar hidup berkecukupan, bahkan bergelimang harta.
 
Sebelumnya, kuceritakan bahwa ibu dan bapak selalu rutin pergi ke Surabaya setiap enam bulan sekali. Tetapi mereka masih belum mau terbuka alasan mereka pergi ke Surabaya. Yang kuingat setiap kali mereka kembali dari Surabaya, mereka selalu membawa koper. 
 
Sejak awal kami menempati rumah baru, kami aku sering merasa seperti ada yang mengawasiku terutama kalau aku sedang berada di kamar mandi, atau ketika hendak tidur di kamar. Aku memang tidak melihat siapa-siapa, tetapi aku seperti bisa merasakan ada kehadiran sosok lain yang sedang mengawasiku. Apalagi aku sering ditinggal sendirian di rumah, Ibu dan Bapak sering pergi ke kota/Kabupaten atau keluar kota, untuk belanja kebutuhan toko. Bahkan kalau mereka ke Surabaya bisa sampai hampir 1 bulan baru pulang. 
 
Kejadian aneh yang aku alami selama tinggal di rumah itu adalah selalu ada benda yang terjatuh di dapur, tidak ada kucing atau tikus. Masalahnya di dapur yang jatuh selalu berganti-ganti dan itu terjadi setiap malam. 
 
Kalau ku tanyakan pada ibu, ibu selalu bilang "udah biarin aja". Alhasil piring atau gelas pecah sudah tidak terhitung lagi. Aku sebenarnya penasaran kenapa setiap malam benda-benda itu terjatuh dengan sendirinya, juga kenapa ibu sepertinya membiarkan saja. 
 
Pernah kejadian, suatu pagi ketika aku sudah mau buka toko tiba-tiba tempat dupa yang terdapat di sudut yang pada saat itu aku berdiri di dekatnya terjatuh dengan sendirinya. Hingga akhirnya tumpah berserakan di lantai itu, tempat dupa itu dipaku ke dinding setinggi satu setengah meter, dan tidak ada orang lain selain aku. 
 
Kejadian lain yang tak kalah mendirikan bulu kudukku adalah setiap tengah malam, di dalam kamarku selalu kudengar seperti langkah orang berjalan di atas plafon kayu bangunan atap. Bunyi ketukan-ketukan di plafon yang terdengar setiap malam itu jelas suara langkah kaki orang sedang berjalan. Awalnya jika mendengar suara itu aku langsung lari ke kamar Ibu, tetapi lagi-lagi ibu selalu bilang "udah biarin aja". Lama -kelamaan aku pun terbiasa dan tidak ambil pusing.
 
Pernah suatu malam ketika itu aku sudah menikah, aku minta suamiku mengecek atas plafon ketika kami mendengar suara langkah kaki itu lagi dengan menggunakan senter
Suamiku memeriksa ke atas tetapi seperti yang sudah kuduga tidak ada siapapun di atas plafon, suara langkah kaki orang berjalan di atas plafon juga pernah kudengar ketika masih tinggal di rumah yang lama. Seingatku suara itu mulai terdengar sejak pertama kali bapak pulang dari Surabaya, dan suara langkah kaki itu sepertinya mengikuti kami ke rumah yang baru. 
 
Tidak berhenti sampai di situ, kejadian-kejadian aneh dan ganjil itu terus berlangsung selama bertahun-tahun kami menempati rumah itu. Pada suatu hari, kala itu aku sudah duduk di bangku SMA, bapak mau bercerita soal kepergian bapak dan Ibu ke Surabaya, dan tak bosan-bosannya aku bertanya ke bapak mengenai hal itu. 
Itupun cuma sedikit. 
 
"Di Surabaya itu bapak dan ibu pergi ke sebuah gunung, setiap kali ke gunung itu kami selalu memotong seekor kambing. 
Sudah ada orang di sana yang ngurus semuanya. Daging kambing yang telah terhidang Kemudian kami santap bertiga bersama juru kunci. Kami sedekahkan untuk orang-orang yang ada di sana. Di sana banyak juga orang-orang seperti bapak mereka. Ada yang memotong kerbau, kambing, ada pula yang memotong ayam" cerita Nur berusaha menirukan ucapan bapaknya.
 
"Untuk apa sih bapak potong kambing di sana? "kejar aku penasaran. 
 
Tetapi bapak malah bilang "kamu itu mau tahu urusan orang tua saja". Kalau dia begitu, bapak tidak bakalan melanjutkan ceritanya. 
 
10 tahun berlalu, aku sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Si Abang sudah kelas 2 SD, dan si adik 3 tahun dari abangnya. Kami tinggal di rumah itu bersama ibu dan bapak, karena memang aku yang sejak awal membantu, mengelola usaha mereka. Sementara suamiku berdinas di kota Mamuju yang jaraknya sekitar 5 jam perjalanan. 
 
Beberapa bulan terakhir ini usaha orang tuaku bertambah satu lagi, yaitu pom bensin Pertamina yang menjual bensin dan solar. Ini adalah satu-satunya pom bensin di daerah kami, dan bisa habis hanya dalam tempo 2 minggu saja. Dengan bertambahnya unit usaha baru ini, membuat uang yang mengalir seperti tak terbendung tiap hari. Seperti tak ada habis-habisnya. 
 
Suatu hari suamiku mengantar bapak dan Ibu pergi untuk suatu keperluan ke Palu, Sulawesi Tengah. Di tengah perjalanan pulang saat itu sudah malam dan suasana di jalan sangat sepi kendaraan atau orang
Di sepanjang jalan yang mereka lewati  ketika mobil melewati depan kuburan sekitar 3 Kilometer dari rumah, mereka bertiga melihat sosok pocong tergeletak melintang di tengah jalan. Mereka akhirnya melewati dengan mengambil jalan agak ke pinggir untuk menghindari sosok itu. 
 
Suamiku sempat menghentikan mobil berniat ingin mengecek, mungkin saja itu perbuatan orang iseng tetapi ibu yang ketakutan dan panik melarang suamiku turun dari mobil dan menyuruhnya untuk segera melanjutkan perjalanan ini. 
 
Beberapa bulan kemudian mulai terjadi penurunan omzet dari keempat usaha yang dijalankan orang tuaku, yaitu bengkel dan toko onderdil motor, rumah makan, penginapan, dan yang terakhir pom bensin. 
Dupa yang kami bakar setiap hari tak mampu lagi mengembalikan keadaan seperti dulu. 
 
Semua itu berawal ketika ibu terkena stroke dan harus dirawat di rumah sakit selama 10 hari. Bapak dan ibu sudah tidak pernah ke Surabaya lagi karena kondisi ibu yang sudah tidak memungkinkan untuk bepergian jauh
Setiap hari ibu hanya duduk saja di kursi malasnya. Diam tanpa melakukan apapun, hanya jika mau ke kamar mandi dan shalat saja ibu beranjak dari tempat duduknya. Itupun harus ditemani, karena jalan Ibu sudah diseret kaki kirinya.
 
Sungguh hatiku melihat kondisi ibu saat itu
akulah yang menjaga dan merawat ibu, Sementara lakak sulungku seperti tidak peduli pada ibu bahkan tidak pernah datang menengok. Kakak sama sekali tidak mau menyentuh ibu, aku tidak peduli dengan sikapnya. Biarkan saja, aku masih sanggup merawat ibu. 
 
Berbulan-bulan kondisi Ibu tidak ada perubahan, bahkan semakin memburuk. Ada bau tidak sedap yang keluar dari mulut si ibu. Kemudian. Sementara itu, hasil yang didapat dari usaha yang semakin sepi tidak cukup untuk biaya hidup. suami kak Rita yang hanya bekerja serabutan tidak bisa diandalkan. Oleh karena itu, aku dan suamiku lah yang banyak menyokong semua kebutuhan ibu dan bapak. 
 
Suatu hari, bapak mendatangiku dan menceritakan semuanya padaku. Itulah aku baru sadar bahwa selama ini orang tuaku melakukan ritual pesugihan di Gunung Kawi. Selama ini aku tahu mereka hanya bilang ada urusan di Surabaya, itu saja. Tetapi yang buat aku terkejut saat itu bapak menawari aku untuk melanjutkan ritual pesugihan, karena ibu sudah tidak mampu melakukannya. Kata bapak, selama ini Ibu yang lebih dominan dalam melakukan itu. Bapak hanya mendampingi, sehingga bapak tidak bisa menggantikan posisi ibu. 
 
Menurut juru kunci yang selalu mendampingi ritual bapak dan ibu di sana, yang bisa menggantikan posisi ibu hanyalah darah dagingnya harus anak kandungnya. Bapaknya mau kalau aku yang menggantikan Ibu. Bagaimana tidak, sejak awal ibu dan bapak tidak pernah melibatkan kakakku itu dalam semua urusan bisnis, baik yang tampak nyata maupun yang bersifat magis. 
 
Aku tidak tahu, apa maksudnya bapak dan ibu selalu menganggap bahwa aku bisa membawa keberuntungan bagi kemajuan bisnis mereka. Sekarang baru aku sadar kenapa dulu selalu aku yang disuruh bapak dan Ibu untuk membuka toko pada pagi hari dan menutup toko malam harinya. 
 
Demikian juga waktu menghitung pemasukan setiap harinya. Jika Ibu dan bapak tidak berada di rumah bahkan membakar dupa, aku pula yang disuruh.
 
"Bagaimana Nur kamu bersedia," tanya bapak. 
 
Aku terdiam, aku tidak bisa memutuskan sendiri perkara yang bisa saja akan mempengaruhi kehidupan keluargaku. Karena itu, aku harus melibatkan suami
Aku harus ngomong dulu sama suamiku, meski bapak. Meski sangat berharap, bapak tetap menghormati keputusanku. 
 
Saat itu aku sempat tergoda dengan tawaran bapak untuk melanjutkan ritual pesugihan Ibu, karena sejak kecil aku sudah terbiasa dengan hidup yang serba berkecukupan sehingga ada rasa takut jika harus berkekurangan. Tetapi aku bersyukur suamiku melarangnya, tak bisa kubayangkan seandainya saat itu aku mengikuti jalan bapak, apa yang akan menimpaku dan mungkin juga menimpa keluarga aku. 
 
Aku pindah ke Pekanbaru, Riau. Suamiku yang dipindah tugaskan ke sana karena itu kak Rita dan keluarganya kembali lagi ke rumah bapak untuk menjaga dan merawat bapak dan ibu.
 
Tetapi baru sekitar sebulan kami tinggal di Pekanbaru, tiba-tiba bapak mengabarkan bahwa kondisi Ibu semakin memburuk. Ada yang terjadi pada ibu. Tidak tega pada bapak yang sampai menangis meminta aku untuk datang menengok Ibu, aku pun terbang kembali seorang diri tanpa ditemani suami dan anak-anak ke rumah bapak dan ibu di Sulawesi Barat
 
Setibanya di sana, bapak menyambutku dengan derai air mata. Hanya kata-kata yang terucap dari mulut bapak. Terkejutnya aku ketika melihat kondisi yang sangat memprihatinkan. Ibu masih seperti yang terakhir kulihat, hanya duduk terdiam di kursi malasnya. Tetapi kondisinya jauh berbeda, ibu kurus sekali dengan pakaian yang sangat kumal dan kotor, serta bau busuk yang amat menyengat seperti bau bangkai. Aku menangis melihat kondisi ibu, saat itu seperti tulang berbalut kulit. Ibu mengenakan pakaian kotor dekil bahkan sobek di beberapa bagian, serta badan Ibu seperti bau bangkai yang amat busuk.
 
"Ibumu tidak mau memakai pakaian bersih, semakin kotor dan bau pakaian itu semakin ibumu suka," kata bapak. 
 
Dengan muka murung dan mata berlinang, ibu hanya mau memakai baju yang dulu biasa ibu pakai jika memasak di dapur. Ada tiga potong baju dan ketiga baju itu memang oleh ibu dicuci, dan anak-anaknya pun dilarang mencucinya. Entah apa alasannya, Ibu tetap seperti biasa. Tetapi anehnya bau badan Ibu tidak bisa hilang, bau busuk yang menyengat masih tetap tercium hingga aku yang berdiri di sebelahnya saat itu merasa mual dan ingin muntah. 
 
Aku hanya bisa menangis, respon Ibu ketika diajak bicara sangat lambat seperti orang linglung. Ibu sering ngelantur, ditanya ke mana jawabannya ke mana. Tingkahnya juga seperti anak kecil, seperti buang air kecil dan buang air besar di sembarang tempat. 
 
Kita sering bertengkar dengan ibu hanya karena itu tidak mau dipakaikan Pampers. Kalau pun akhirnya mau pakai pampers nanti ketika ingin buang air besar, Ibu akan melepas pampers itu dan akhirnya kotoran berceceran dilantai. 
 
Ketika hendak shalat, Ibu lebih suka memakai mukena yang sudah banyak noda dan bintik-bintik hitam yang sudah layak dibuang. Padahal di lemari Ibu banyak sekali mukena yang masih bagus. Bapak sering menangis mengingat dulu ketika masih sehat ibu selalu memperhatikan penampilannya. 
 
Yang membuatku tercekat, ketika melihat ibu shalat membelakangi kiblat. Lagi-lagi hanya aku hanya bisa menangis melihat apa yang terjadi pada ibu. 
 
Bapak mulai sadar akan kesalahan dan dosa yang telah dilakukannya bersama ibuku. Aku lihat bapak berubah drastis. Bapak lebih religius shalat lima waktu, dan selalu di masjid. Kelihatannya bapak benar-benar sudah bertobat. 
 
Bapak cerita, ibu pernah dibawa ke seorang Ustadz untuk diruqyah. Sebelum proses Ruqyah, Ibu disiram air sebatas perut. Dalam posisi duduk di atas kursi dan sebuah ember ditaruh di bawah untuk menampung air siraman, sungguh diluar dugaan. Air yang tertampung di ember berwarna hitam pekat dengan aroma busuk seperti air comberan. Bapak dan kakak ipar yang mengantar Ibu sampai mual tidak tahan dengan baunya. Tetapi sepertinya belum membuahkan hasil.
 
"Yang pernah dilakukan benar begitu Pak,"tanya pak Ustad itu. 
 
Bapak sudah merasa tapi bapak tidak berani berterus terang saat itu. 
 
"Mungkin ibumu sudah terlambat untuk bertaubat nak, "ujar napak padaku. 
 
Aku menerima telepon dari bapak, waktu itu aku sudah kembali ke Pekanbaru dan kabar yang bapak sampaikan sontak membuat Aku kaget. Rumah sekaligus tempat usaha bapak dan ibu di Mamuju Utara tadi malam sekitar waktu magrib mengalami kebakaran hebat. Lantai dan seluruh isinya ludes dilalap api. Alhamdulillah tidak ada yang terluka dalam musibah itu, semua selamat dan pada saat bapak menelpon seluruh keluarga sementara pindah ke bangunan kantor dalam pom bensin mini milik orang tua. 
 
Beberapa hari kemudian bapak ibu dan keluarga kita memutuskan untuk kembali ke rumah bapak yang lama. Penyebab kebakaran itu diperkirakan dari api lilin yang menyambar tirai jendela. Kebetulan malam itu listrik padam sehingga mereka menyalakan lilin sebagai penerangan. 
 
Peristiwa kebakaran yang menghanguskan rumah orang tuaku itu bukan hanya menyisakan puing-puing, tetapi berikut keanehan-keanehan yang menyertai yang sulit diterima nalar. Seperti yang diceritakan, kebakaran malam itu terjadi sangat cepat untuk sebuah bangunan besar 2 lantai. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari 2 jam rumah dan toko itu terbakar habis. Tetangga dan orang-orang turut membantu memadamkan dengan ember dan peralatan seadanya.
 
Aku hanya bisa tertegun, Damkar yang baru datang satu jam setelah kebakaran hanya bisa menyiram sisa-sisa puing yang masih membara. Kemudian, saat kebakaran terjadi ada peristiwa ganjil yang membuat orang-orang yang melihatnya. Dari tengah bangunan tampak kobaran api membentuk putaran seperti angin puting beliung. Putaran api raksasa itu seperti menghisap apapun yang berada di dalam gedung dan membawanya naik ke langit. Apakah mungkin putaran api itu yang membuat api begitu cepat menghanguskan bangunan?.
 
Sebelum kebakaran itu terjadi, kak Rita dan bapak sedang duduk-duduk di depan toko. Tiba-tiba muncul dua orang berpakaian putih-putih dengan memakai sorban meminta sumbangan. Alih-alih memberi sumbangan, bapak malah berkata-kata yang tidak enak didengar dan menyuruh mereka pergi.
 
"Kita juga buat makan susah, mereka malah enak-enak minta sumbangan," begitu kata bapak. 
 
Bapak dan Ibu memang tergolong pelit dalam urusan sumbangan dan sedekah. Sebelum mereka pergi, salah seorang dari mereka seperti memberi peringatan kepada bapak.
 
"Kamu orang sungguh pelit, lihat saja nanti sesuatu akan terjadi padamu," kata salah seorang itu. 
 
Kemudian mereka beranjak pergi. Merasa aneh dengan ancaman orang tadi, kak Rita memperhatikan kemana mereka pergi. Keanehan terjadi sekitar 15 meteran mereka berjalan, kedua orang itu tiba-tiba menghilang. 
 
Ketika masuk waktu maghrib rumah dan toko bapak terbakar tahun 2009. Satu tahun setelah peristiwa kebakaran, bapak meninggal karena terjatuh di kamar mandi. Darah mengalir dari mulut, hidung, telinga bahkan kedua matanya. Waktu itu aku belum bisa pulang hanya komunikasi melalui telepon yang bisa kulakukan.
 
Ada kisah haru, keesokan paginya ketika ibu yang hanya bisa duduk di kursi meminta kak Rita untuk membangunkan bapak yang sudah terbujur kaku waktu itu. Dimana saat jenazah bapak ingin dimandikan, ibu meminta bapak untuk membelilan nasi kuning. Ibu tidak mau makan apapun kecuali nasi kuning yang diberikn oleh Bapak. Setiap pagi tidak mau kalau anaknya yang beli sendiri, jadi bapak sering beli nasi kuning bungkus. Yang satu bungkus lagi ditaruh di kulkas untuk nanti dipanaskan buat makan malam. 
 
Bahkan sampai bapak di makamkan, Ibu masih belum menyadari dan berulang-ulang menanyakan 'mana bapakmu'. 40 hari setelah bapak meninggal diadakan pengajian selepas maghrib, selama pengajian berlangsung di dalam kamar Ibu menunjukkan gejala ibu yang sudah tidak bisa apa-apa, kecuali terbaring di tempat tidur dengan mendengkur cukup keras.
 
Begitu selesai pengajian, seluruh keluarga berkumpul di kamar Ibu. Mereka sudah merasa bahwa ibu sudah tidak lama lagi. Suara mendengkur Ibu semakin keras, bahkan bunyinya seperti suara tersedak. Detik-detik Ibu sakaratul maut, family tertua (nenek), menyuruh untuk menghubungi aku yang masih di Pekanbaru. Aku satu-satunya keluarga yang absen malam itu. 
 
Kami shock, secara mengetahui kondisi ibu yang kritis. Kedua anakku sampai khawatir melihat aku saat itu. Aku tidak bisa pulang karena suamiku saat itu masih dinas di Medan, dan dua minggu lagi baru kembali. 
 
Family tertua kami, aku memanggilnya nenek, minta aku untuk kuat dan berbicara langsung dikirim ke ibu lewat telepon. Nenek bilang bahwa ibu hanya tinggal menunggu aku. Aku anak paling bandel di bandingkan Kedua saudara aku, tetapi aku paling dekat dengan ibu dan bapak. Semua keluarga juga tahu akan hal itu. 
 
"Ini sudah di sini, " kata Rika berujar di telinga Ibu. 
 
Aku berbicara di telinga Ibu. 
 
 "Maafkan aku. Nur ikhlas bu! jika Ibu mau pergi."kataku.
 
Tidak lama kemudian, ibu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Yang aku sesalkan, aku tidak bisa berada di samping kedua orang tuaku untuk terakhir kali di saat kepergian mereka. Di sisi lain, mata ibu yang melotot berhasil dipejamkan dengan usapan tangan, tetapi tidak demikian dengan mulut ibu yang terbuka lebar yang terpaksa harus diikat untuk membuat mulut Ibu mengatup. 
 
Genap 40 hari setelah kepergian bapak, Ibu akhirnya menyusul bapak menemui sang Khalik. Beberapa minggu kemudian, aku baru bisa pulang ke Sulawesi sendiri tanpa ditemani suami dan anakku. Aku hanya bisa melihat pusara ibu dan bapak dengan berlinang air mata. Doaku panjatkan untuk mereka berdua, kesalahan apapun yang telah mereka lakukan di masa lalu mereka tetaplah orang tuaku. Tamat!. ***

Editor: Megawati

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Tempat Angker di Kota Kediri Membuat Bulu Kudu Naik

Selasa, 11 Januari 2022 | 18:28 WIB
X