• Jumat, 3 Desember 2021

Nyadran dan Dekah Desa Tradisi Masyarakat Pudak Payung yang Tak Lekang Waktu

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:51 WIB
Nyadran di Komplek Pemakaman Sarangan, Pudak Payung, Semarang (Hilda Arief )
Nyadran di Komplek Pemakaman Sarangan, Pudak Payung, Semarang (Hilda Arief )

PenaBicara.com-Salah satu tradisi masyarakat Pudak Payung, Banyumanik, Semarang yang tak lekang oleh waktu dan tetap melekat erat adalah budaya nyadran. 

Nyadran yang dilaksanakan dua kali dalam setahun, biasanya diadakan di komplek pemakaman dan sendang. 

Masyarakat berbondong-bondong ke komplek pemakaman, Jumat, 15 Oktober 2021. Mereka membawa berbagai jenis makanan dan jajanan. 

Makanan yang dibawa diletakkan di atas daun pisang yang di gelar sepanjang jalan masuk komplek pemakaman Sarangan.

Tradisi nyadran ini, kata Turmiyati, merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan sejak jaman leluhurnya. Turmiyati warga Pudak Payung yang rutin ikut tradisi nyadran. 

Sebelum acara nyadran biasanya warga lebih dulu “nyekar”ke kubur sehari sebelumnya. 

Nyadran selain untuk mendoakan leluhur, tradisi ini memiliki filosofi kebersamaan untuk tetap menjalin silahturahmi.

Tampak warga guyup rukun, mensukseskan acara nyadran yang tidak setiap saat digelar tersebut. 

Selain nyadran satu lagi tradisi warga Pudak Payung yang hingga saat tetap diyakini dan dilaksanakan. Acara dekah desa, dengan nanggap wayang kulit yang dilaksanakan setiap tahun sekali. 

Halaman:

Editor: Hilda Arief

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Apa Saja Program Kerja DMI Kota Sorong 2021?

Selasa, 30 November 2021 | 09:47 WIB

7 Fakta Menarik Kraton Yogyakarta, Apa Saja?

Senin, 29 November 2021 | 13:19 WIB
X