• Jumat, 12 Agustus 2022

Borobudur di Hati Saya

- Kamis, 9 Juni 2022 | 17:19 WIB
ARI WULANDARI Penulis dan Dosen PBSI - FKIP - Universitas PGRI Yogyakarta.  (Hilda Arief)
ARI WULANDARI Penulis dan Dosen PBSI - FKIP - Universitas PGRI Yogyakarta. (Hilda Arief)

Oleh :  Ari Wulandari 

Dosen PBSI FKIP Universitas PGRI Yogyakarta 

PenaBicara.com - Hari Minggu pagi (5 Juni 2022) saat saya masih berpikir akan lari atau melanjutkan tidur, berseliweran kabar tentang Borobudur di grup-grup WA. Tiket ke Candi Borobudur menjadi 750 ribu (IDR) untuk wisatawan lokal dan 1,4 juta (IDR) untuk wisatawan asing. Karena sudah berulang ke Borobudur, saya tidak memberi tanggapan.

Saya pun bangun dan berbenah untuk lari. Saat siang, keriuhan kenaikan harga tiket Borobudur semakin ramai. Saya menahan diri untuk tidak ikutan share atau membahas apapun tentang kenaikan tiket Borobudur. Bagi sebagian orang, wisata bukanlah prioritas. Ke candi belum tentu jadi tujuan wisata. Beda urusan kalau misalnya harga beras yang semula 10-20 ribu lalu melonjak 500 ribu per kilo, biyuuu… pasti se-Indonesia Raya geger. Beras makanan pokok kita.

Sore hari beredar lagi berita kalau tiket 750 ribu dan 1,4 juta itu untuk mereka yang ingin naik ke candi. Pengunjung akan disertai oleh guide dan beragam teknis aturan. Semuanya demi menjaga kelestarian candi. Biar batu-batu candi tetap awet dan tidak semakin tenggelam (ambles). Beban yang berat di Borobudur menjadikan candi ini mengalami penurunan dasar dari tahun ke tahun. Tiket masuk ke kawasan candi masih sama, 50 ribu. Sedangkan untuk pelajar dibandrol dengan tiket 25 ribu. Harga-harga itu mungkin akan dikoreksi setelah diujicobakan.

Berita tentang tiket Borobudur ini bikin sosmed kita riuh lagi. Beragam pendapat. Beraneka pemikiran. Kalau positif, saya siy oke-oke saja. Tapi yang bikin saya mules, berbanyak caci maki dan hujatan pada pemerintah pun hilir mudik. Secara otomatis ini membuat saya bersih-bersih sosmed kembali.

Saya bukan bersepakat dengan kenaikan harga tiket ke Borobudur. Sebagai penulis yang doyan dolan, saya tentu happy kalau masuk ke tempat wisata itu free alias tidak bayar. Namun sebagai orang yang mengerti bahwa sesuatu itu harus dirawat, dipelihara, dijaga, direnovasi, dll demi tetap baik sekian abad ke depan; tentu menarik tiket berbayar adalah hal yang wajar.

Apalagi untuk mahakarya sekelas Borobudur ini. Bahkan untuk candi-candi lainnya di seluruh Nusantara, sepertinya pemerintah dan pihak terkait perlu merevisi kebijakan tarif tiket masuknya. Sekurangnya dana tersebut akan bermanfaat untuk pembenahan, perbaikan, sehingga wisata candi-candi menjadi lebih berharga.

Candi Borobudur di hati saya sangatlah istimewa. Sejak SMP saya sudah menjejaki candi ini sampai ke stupa tertinggi. Masa SMA, saya kembali lagi mengunjungi candi terbesar di Indonesia ini. Saya berpikir, kalau saya kuliah di Jogja, bisa lebih sering datang ke candi ini.

Halaman:

Editor: Hilda Arief

Artikel Terkait

Terkini

Seragam Sekolah

Senin, 8 Agustus 2022 | 07:25 WIB

Doddyansyah, Manajer BCL Positif Narkoba

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 12:52 WIB

Manajer Artis BCL Ditangkap Terkait Kasus Narkoba

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:41 WIB

Yuk! Berburu Emas di Bazar Emas Pegadaian

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 09:17 WIB

Tantangan Freelancer

Kamis, 4 Agustus 2022 | 18:14 WIB

Tabungan Emas

Senin, 1 Agustus 2022 | 07:21 WIB

Sok Sibuk Atau Produktif?

Jumat, 29 Juli 2022 | 12:04 WIB
X