• Selasa, 28 Juni 2022

Kebangkitan Nasional: Bebas dari Utang

- Kamis, 19 Mei 2022 | 18:48 WIB
ARI WULANDARI Penulis dan Dosen PBSI - FKIP - Universitas PGRI Yogyakarta. (Hilda Arief)
ARI WULANDARI Penulis dan Dosen PBSI - FKIP - Universitas PGRI Yogyakarta. (Hilda Arief)

Oleh :  Ari Wulandari 

Dosen PBSI FKIP Universitas PGRI Yogyakarta 

PenaBicara.com - Hari Kebangkitan Nasional kita peringati setiap tanggal 20 Mei sebagai bentuk penghargaan dan peringatan atas perjuangan para generasi muda pendahulu kita, demi Indonesia Merdeka. Kini kita sudah 76 tahun merdeka dengan bentuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dari Sabang sampai Merauke. Kita terus melakukan pembangunan di segala bidang demi tercapainya bangsa Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. 

Terlalu jauh kalau saya membahas urusan pembangunan dengan semangat kebangkitan nasional. Kebangkitan dalam versi saya sebenarnya bagaimana seseorang mengatasi kondisi buruk dan mengubahnya menjadi kondisi baik. Hal yang seperti ini ada banyak di sekitar kita. Bisa jadi kita pun mungkin mengalami. Tidak mungkin dalam kehidupan kita selamanya mulus-mulus saja. Pasti ada jatuh bangunnya, mulas mualnya ---yang harus kita selesaikan.

Persoalan yang sering mengurung kita terpuruk dalam kehidupan adalah masalah utang dengan berbagai latar belakang. Utang membuat kita serasa terpenjara dalam kehidupan. Kita cenderung tidak bebas mengatur keuangan kalau punya utang. Mereka yang tidak punya utang ---biasanya lebih “merdeka”, hidup tenang, tidur nyenyak, tidak khawatir menyambut hari-hari baru.

Sebagai freelancer yang menekuni dunia tulis menulis dalam kurun hampir sepanjang hidup, saya tahu persis rasanya mendapatkan rezeki besar, rezeki sedang, rezeki kecil, atau bahkan tidak ada rezeki selama berbulan-bulan. Kalau manajemen keuangan saya tidak baik, pasti sudah sejak lama saya terjebak dengan masalah utang saat tidak ada pekerjaan yang langsung menghasilkan uang.

Toh di sekitaran kita, tidak hanya freelancer yang terlibat masalah utang. Mereka yang berpenghasilan tetap dan besar pun bisa terlibat masalah utang. Biasanya utang-utang ini terjadi karena gaya hidup yang berlebihan, ibarat besar pasak daripada tiang. Atau bisa juga karena manajemen keuangan yang kurang baik. Uang dan seluruh penghasilan seperti menguap begitu saja, tanpa tahu persis penggunaannya.

Dalam kehidupan ini, siapa siy yang tidak pernah terlibat masalah utang? Porsi utang tiap orang dan sebab alasannya berbeda-beda. Utang tidak selalu buruk. Ada orang yang memutuskan untuk mengalihkan investasinya sebagai utang. Kalau tidak “berutang” mereka tidak bisa menyisihkan uangnya.

Sebagai contoh, ada orang yang bekerja menetap dan tiap bulan mendapatkan gaji. Dia memilih untuk menanggung cicilan logam mulia emas 100 gram sebesar 1 gram setiap 1 bulan. Tentu saja biaya 1 gram itu harus ditambah biaya-biaya administrasi dan nilai perubahan selama masa mengangsur. Cicilan itu didebet langsung setiap bulan dari rekening gajinya.

Secara nalar, sebenarnya biaya mencicil logam mulia 100 gram itu jauh lebih besar dibandingkan kalau yang bersangkutan membeli logam mulia 1 gram setiap bulan. Namun pertimbangannya tidak seperti itu. Kalau membeli logam mulia 1 gram setiap bulan, dia belum tentu bisa. Sebaliknya kalau dipotong langsung setiap bulan (meskipun dengan biaya tambahan), dia selalu bisa. Hingga akhirnya lunas juga cicilan logam mulia 100 gram  dan emas pun menjadi miliknya.

Halaman:

Editor: Hilda Arief

Artikel Terkait

Terkini

Sebelum Hilang, Marshanda Katakan Ini

Selasa, 28 Juni 2022 | 12:49 WIB

Kalau Kamu Menikah

Kamis, 23 Juni 2022 | 16:15 WIB

Selamat, Sivia Azizah Resmi Menikah!

Senin, 20 Juni 2022 | 07:45 WIB

Bercermin Dari Kisah Eril Bin Ridwan Kamil

Kamis, 16 Juni 2022 | 18:45 WIB

Lirik Lagu Stray Kids - Circus!

Senin, 13 Juni 2022 | 08:23 WIB

Lirik Lagu Calum Scott feat Lyodra - Heaven

Jumat, 10 Juni 2022 | 07:52 WIB

Borobudur di Hati Saya

Kamis, 9 Juni 2022 | 17:19 WIB

Lirik Lagu Secret Number - DOOMCHITA

Kamis, 9 Juni 2022 | 08:13 WIB
X