• Selasa, 24 Mei 2022

Pendidikan Nasional: Belajar Dengan Gembira

- Kamis, 12 Mei 2022 | 19:44 WIB
ARI WULANDARI Penulis dan Dosen PBSI - FKIP - Universitas PGRI Yogyakarta, (Hilda Arief)
ARI WULANDARI Penulis dan Dosen PBSI - FKIP - Universitas PGRI Yogyakarta, (Hilda Arief)

 

Oleh :  Ari Wulandari 

Dosen PBSI FKIP Universitas PGRI Yogyakarta 

PenaBicara.com-Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei sudah lewat beberapa hari. Namun karena pas hari itu kita masih merayakan Idul Fitri atau berlebaran, maka saya baru mengulas materi ini sekarang. Menurut saya, pendidikan tetap akan menjadi tema atau bahasan yang selalu up to date; karena di dalam pendidikan itu selalu ada proses belajar terus menerus untuk memperbaiki kehidupan.

Saya termasuk orang yang mempercayai bahwa pendidikan tinggi adalah satu-satunya jalan untuk memangkas kemiskinan. Kita secara langsung atau tidak langsung dapat melihat, mereka yang memiliki pendidikan tinggi ---secara umum memiliki tata ekonomi yang lebih mapan. Tidak selalu seperti itu, tapi kecenderungan umum begitu. Mereka yang mendapatkan pendidikan formal lebih layak (tinggi), bisa mengakses pekerjaan formal secara lebih luas dibandingkan mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Oleh karena itu, meskipun bertahun-tahun sejak belia saya adalah freelancer sebagai penulis profesional, saya tetap memutuskan untuk sekolah tinggi. Saya melihat bahwa sekolah formallah yang membantu kita berpikir secara teoretis dan konstruktif. Sekolah formal mendorong kita untuk terbiasa melihat segala sesuatu secara sistematis dan menyeluruh. Sekolah tinggi bagi saya bukan semata-mata demi menambah gelar dan ijazah ---yang ora payu ‘tidak laku’ di dunia freelancer, tetapi tentang membentuk pola pikir dan meluaskan jaringan atau relasi.

Saya bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan kepada saya kesempatan sekolah formal sampai tingkat tertinggi. Dan inilah yang menjadi persoalan ketika kemudian saya ditanya oleh mereka yang ingin menempuh sekolah tinggi; bagaimana cara lulus dari salah satu kampus terbaik dengan waktu yang sangat cepat. Pertanyaannya mudah, tetapi untuk menjawabnya saya perlu waktu untuk sedikit berpikir.

S-1 Sastra Indonesia UGM saya tempuh 3 tahun 1 bulan, S-2 Ilmu Linguistik UGM saya selesaikan 1 tahun 4 bulan, S-3 Ilmu-Ilmu Humaniora UGM saya rampungkan 3 tahun 3 bulan. Saya bejo alias beruntung dengan latar belakang anak desa nun jauh di Tulungagung, bisa mengenyam pendidikan tinggi di kampus biru ini. Waktu studi yang singkat, tidak menghalangi saya untuk menjadi bagian dari lulusan-lulusan terbaik.

Waktu studi yang singkat itu bisa saya tempuh, salah satu faktornya adalah kuliah dengan biaya mandiri alias mbayar dhewe. Semakin lama studi saya, tentu semakin besar biaya yang harus saya keluarkan. Kuliah dengan bekerja, tentu tidak sama dengan mereka yang hanya fokus kuliah dan dibiayai. Karenanya sejak awal kuliah, saya merasa wajib bertemu pembimbing dan dosen terkait untuk membicarakan soal masa studi dan cara agar saya bisa lulus cepat.

Halaman:

Editor: Hilda Arief

Artikel Terkait

Terkini

Kebangkitan Nasional: Bebas dari Utang

Kamis, 19 Mei 2022 | 18:48 WIB

Raffi Ahmad Datangi Polda Metro Jaya, Ada Apa?

Jumat, 13 Mei 2022 | 18:13 WIB
X